![]() |
Prof. Dr. Ponimin, M.Hum melakukan observasi dan pencermatan kostum (Foto ist.) |
Damariotimes. Jombang, 1 April 2025. Tim Pengabdian Masyarakat PKM UM menaruh perhatian khusus pada seni pertunjukan Sandur Manduro. Sandur merupakan seni pertunjukan rakyat yang berasal dari
Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kesenian ini bukan hanya sekadar hiburan,
tetapi juga sarana untuk melestarikan tradisi, budaya, dan sejarah masyarakat
Madura yang tinggal di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.
Sebagai teater tradisional yang menggunakan bahasa Madura, Sandur Manduro
mencakup berbagai bentuk seni, termasuk seni musik, tari, rupa, teater, dan
sastra. Meskipun pada masa kejayaannya di dekade 1970-an sering dipentaskan,
kini Sandur Manduro menghadapi tantangan untuk bertahan, terancam punah karena
kurangnya regenerasi dan minat dari generasi muda.
Peneliti Pengabdian Masyarakat PKM 2025 dari UM yang diketuai oleh Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. beserta para ahli yang terdiri dari Prof. Dr. Pinimin, M.Hum. dan Dr. Widarahayunigtyas, M.Pd. melakukan renovasi yang difoksukan pada pembanahan secara internal agar dapat memberikan dukungan pada penampilan. Upaya yang dilakukan membuat publikasi, redesain kostum, dan menuliskan sejarah singkat berupa buku saku yang dapat digunakan oleh mereka yang akan mendalami seni pertunjukan yang maulai langka ini.
Sejarah dan Perkembangan Sandur
Manduro
Sandur Manduro bermula ketika orang Madura yang menetap di bukit kapur, yang kini dikenal dengan Desa Manduro, membawa kesenian ini ke tanah Jawa. Kehidupan masyarakat Manduro yang sederhana, mayoritas bertani, menciptakan konteks sosial yang memperkaya kesenian ini. Sandur Manduro, yang dulunya berkembang pesat di desa ini, kini hanya tersisa satu kelompok yang masih bertahan, yaitu Sandur Gaya Rukun yang dipimpin oleh Bapak Karlan. Pada masa puncaknya, Sandur Manduro dipentaskan sebanyak 26 kali dalam sebulan. Kini, frekuensi pementasan berkurang drastis, hanya satu atau dua kali dalam setahun.
Ciri Khas Pertunjukan Sandur Manduro
Pertunjukan Sandur Manduro tidak
hanya menggabungkan berbagai jenis seni, tetapi juga mencerminkan karakteristik
masyarakat Desa Manduro. Beberapa tarian tradisional yang menjadi bagian
integral dari pertunjukan ini antara lain Tarian Bapang, Tari Klana, Sapen,
Punakawan, Panji, Jaranan, dan Gunungsari. Tarian Bapang, yang menggambarkan
tokoh Dursasana dari pewayangan, menjadi salah satu tarian yang paling dikenal
dalam Sandur Manduro.
Selain tarian, Sandur Manduro juga diwarnai dengan musik tradisional yang mengiringi setiap pertunjukan. Musik ini memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang mendalam, menambah nuansa magis dalam cerita yang disampaikan. Kostum dan tata rias yang digunakan juga tidak kalah menarik, dengan desain yang khas Madura, memperkuat identitas budaya dalam setiap adegan.
Sandur Manduro sebagai Warisan
Budaya Takbenda
Pada tahun 2017, Sandur Manduro ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penetapan ini merupakan bentuk pengakuan atas nilai budaya yang terkandung dalam kesenian ini. Keputusan ini juga bertujuan untuk melindungi dan melestarikan budaya takbenda yang merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang sangat berharga. Masyarakat Kabupaten Jombang, sebagai daerah asal kesenian ini, patut berbangga atas pengakuan tersebut.
Upaya Pelestarian dan Tantangan di
Masa Kini
Meski telah diakui sebagai warisan
budaya takbenda, Sandur Manduro masih menghadapi banyak tantangan, salah
satunya adalah kurangnya minat dari generasi muda. Banyak pemuda-pemudi Manduro
yang lebih tertarik dengan kesenian modern daripada kesenian tradisional. Ini
membuat generasi penerus yang mampu menjaga eksistensi Sandur Manduro semakin
sedikit.
Pemerintah Kabupaten Jombang,
bersama dengan berbagai pihak seperti Universitas Negeri Surabaya, terus
berupaya untuk melestarikan Sandur Manduro melalui berbagai program pelatihan
dan pembinaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pelatihan pengembangan
bentuk penyajian kesenian Topeng Sandur bagi seniman di Kabupaten Jombang.
Namun, untuk memastikan kelestarian kesenian ini, peran serta masyarakat,
khususnya pemuda, sangat penting.
Reporter : MAH
Editor : S. Narwati
Posting Komentar untuk "Tim Peneliti UM Renovasi Sandur Manduro Jombang Jawa Timur yang Perlu Dilestarikan"