Filosofi Hari Raya Kuningan
Dalam tradisi Hindu Bali, Hari Raya Kuningan memiliki makna yang mendalam,
terutama terkait dengan hubungan manusia, leluhur, dan para dewa. Filosofi
Kuningan erat kaitannya dengan keseimbangan antara alam sekala (dunia nyata)
dan niskala (dunia tak kasat mata). Umat Hindu percaya bahwa pada Hari Raya
Kuningan, roh-roh leluhur yang telah datang sejak Galungan kembali ke
kahyangan, tempat mereka berasal. Oleh karena itu, Kuningan merupakan momen
penting untuk menghormati, mengantar, dan memohon perlindungan dari para
leluhur serta kekuatan spiritual yang ada di alam semesta.
Kuningan juga menyimbolkan "kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (keburukan)," di mana manusia diingatkan untuk terus menjaga harmoni, keseimbangan spiritual, dan kebajikan dalam hidup sehari-hari. Sesajen yang dibuat berwarna kuning (simbol kemakmuran) dengan hiasan seperti tamiang (lingkaran simbol perlindungan) dan endongan (simbol bekal perjalanan leluhur) menegaskan filosofi bahwa Kuningan merupakan ritual peneguhan rasa syukur atas perlindungan dan kelimpahan yang telah diberikan. Salah satu lokasi Ritual hari raya Kuningan dapat dikemukakan sebagai berikut:
Pura Batur Sari Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori
Pura Batur Sari, yang merupakan pusat Kawitan Arya Tegeh Kori, menjadi
salah satu lokasi penting dalam perayaan Hari Raya Kuningan. Sebagai pura
kawitan, tempat ini memiliki makna khusus sebagai pura leluhur bagi keturunan
Arya Tegeh Kori. Pada hari Kuningan, umat berkumpul di pura ini untuk
melaksanakan upacara sembahyang bersama, memohon keselamatan, kesejahteraan,
dan berkah bagi keluarga besar mereka.
Di Pura Batur Sari, suasana sakral terasa kuat. Pura dihias dengan berbagai simbol upakara yang dipersembahkan sebagai bentuk rasa syukur kepada leluhur. Upacara diiringi dengan doa-doa yang dipimpin oleh pemangku pura, di mana umat memanjatkan harapan agar hubungan mereka dengan leluhur dan para dewa tetap terjaga dengan baik.
Pura Dalem Bonkeneng Tonja
Pura Dalem Bonkeneng Tonja, yang terletak di wilayah Tonja, juga merupakan
tempat di mana perayaan Kuningan dilaksanakan dengan khusyuk. Pura ini memiliki
arti penting dalam kepercayaan Hindu Bali, terutama dalam konteks penghormatan
kepada roh-roh suci yang menjaga keseimbangan alam. Pura Dalem secara khusus
dikaitkan dengan dewa-dewa pelindung dan leluhur yang telah mencapai kedewaan.
Pada Hari Raya Kuningan, di Pura Dalem Bonkeneng Tonja seringkali
diselenggarakan pertunjukan wayang kulit sebagai bagian dari ritual suci.
Wayang ini bukan sekadar hiburan, melainkan media spiritual untuk menyampaikan
pesan-pesan moral dan filosofis kepada umat. Lakon yang ditampilkan dalam
pertunjukan wayang pada upacara Kuningan biasanya berisi cerita tentang
kemenangan dharma atas adharma, serta pentingnya menjaga harmoni dan
keseimbangan dalam kehidupan.
Wayang sebagai bagian dari ritual mengandung filosofi yang mendalam. Wayang merupakan refleksi dari kehidupan manusia yang terhubung dengan dunia roh dan para leluhur. Melalui wayang, umat dapat merenungkan arti dari perjalanan hidup, hubungan mereka dengan leluhur, dan tanggung jawab moral dalam menjalani kehidupan.
Pertunjukan Ritual: Wayang sebagai Penghubung Spiritual
Salah satu keunikan dalam perayaan Kuningan di Pura Dalem Bonkeneng Tonja adalah
adanya pertunjukan wayang sebagai bagian dari ritual. Wayang yang dipentaskan
pada Hari Raya Kuningan bukanlah sekadar seni, tetapi sarana penghubung antara
dunia manusia dengan dunia spiritual. Dalam kepercayaan Hindu Bali, wayang
memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan-pesan moral yang dikemas dalam
cerita-cerita epik, seperti Mahabharata atau Ramayana.
Lakon wayang yang dibawakan pada upacara Kuningan sering kali menggambarkan
perjuangan antara kebaikan dan keburukan, serta pentingnya menjaga nilai-nilai
kebaikan (dharma). Melalui simbolisme tokoh-tokoh wayang, umat Hindu Bali
diingatkan untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara aspek-aspek spiritual
dan duniawi dalam kehidupan sehari-hari.
Pertunjukan wayang dalam ritual ini juga mencerminkan konsep "tri hita
karana," yaitu tiga hubungan harmonis yang harus dijaga oleh manusia:
hubungan dengan Tuhan (parahyangan), hubungan dengan sesama manusia (pawongan),
dan hubungan dengan alam (palemahan). Wayang dalam konteks Kuningan tidak hanya
berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarana meditasi bagi umat untuk
merenungkan tugas mereka dalam menjaga harmoni di dunia ini.
Konteributor
: Putu Adi Saputra
Editor : R.Dt.
Setalah saya membaca artikel diatas dapat disimpulkan bahwa Salah satu keunikan dalam perayaan Kuningan di Pura Dalem Bonkeneng Tonja adalah pertunjukan wayang sebagai bagian dari ritual, yang dikemas dalam cerita-cerita epik, seperti Mahabharata atau Ramayana.
BalasHapusBanyak filosofi mendalam terkait hari raya kuningan termasuk simbol akan keseimbangan spiritual, dan kebajikan dalam hidup sehari-hari. Perayaan ini menandai puncak dari penghormatan kepada leluhur yang dipercaya turun ke bumi selama perayaan Galungan. Yang biasa diselenggarakan di Pura Batur Sari Pusat Kawitan Arya Tegeh Kori dan Pura Dalem Bonkeneng Tonja.
BalasHapusYang saya ketahui hari raya kuningan adalah sebagai penutup hari raya galungan kuningan, tetapi setelah saya membaca artikel diatas ternyata ada keunikannya yaitu pertunjukan wayang yang menjadi bagian ritual tetapi juga sebagai hiburan. Selain itu juga sebagai sarana meditasi bagi umat untuk merenungkan tugas mereka dalam menjaga harmoni di dunia ini.
BalasHapusArtikel diatas membahas tentang Hari Raya Kuningan, sebuah ritual sakral umat Hindu Bali sebagai puncak perayaan Galungan. Kuningan melambangkan keseimbangan spiritual dan penghormatan kepada leluhur, serta kemenangan kebaikan atas keburukan. Upacara di Pura Batur Sari menjadi salah satu wujud penting dalam menjaga hubungan manusia dengan leluhur dan dewa melalui persembahan dan doa.
BalasHapusSetelah saya membaca artikel ini saya mengetahui bahwa hari raya kuningan adalah ritual sakral yang dirayakan oleh masyarakat Hindu di Bali sebagai penutup dari rangkaian perayaan Galungan
BalasHapusDari berita di atas saya menjadi tahu bahwa filosofi dari kuningan adalah keseimbangan antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala ( dunia tak kasat mata). Salah satu lokasi ritual hari raya kuningan dapat di temukan di pura batur sari, pura dalem bonkeneng tonja
BalasHapusArtikel ini menggambarkan dengan indah makna dan prosesi Hari Raya Kuningan di Bali, yang tidak hanya menjadi momen untuk mempersembahkan rasa syukur kepada leluhur tetapi juga untuk memperkuat keseimbangan spiritual. Kuningan melambangkan kemenangan kebaikan atas keburukan dan mengingatkan umat Hindu Bali untuk menjaga harmoni dalam kehidupan.
BalasHapus